Oprasi Itu… #1 Sport Jantung

Waktu pulang… di Palembang pesawat delay 1 jam sementara di Semarang ibu sedang dalam proses operasi. Di Bandara Jakarta bengong 3 jam sambil berdoa sementara ibu dari proses operasi sampai selesai operasi aku belum juga terbang. Jam 21.00 sampai di bandara Semarang dan langsung menuju rumah sakit dan bermalam disitu. Di rumah sakit semua berjalan seperti biasa, ibu yang habis operasi belum bisa apa-apa bahkan untuk ke kamar mandi sangat kepayahan.

Empat hari kemudian ibu pulang dengan 12 jahitan dan sampai rumah sekitar jam 10.00 pagi, tak disangka jam 14.00 terjadi sesuatu pada luka ibu. Lukanya mengeluarkan cairan berwarna merah jambu, aku bilang itu hanya cairan biasa saja bukan darah, supaya ibu tidak cemas. Lalu aku berlari keluar rumah dan telpon rumah sakit untuk ngomong sama dokter yang membedahnya, tapi tidak disambungkan dengan berbagai alasan. Tak habis akal aku minta untuk dikirimkan perawat sekedar ganti perban sekalian melihat ada apa, tapi alesannya tak ada perawat yang pulangnya searah dengan rumahku :(( hadeeeh…..

Akhirnya sore itu juga aku larikan kembali ibu ke rumah sakit dan masuk IGD, ketemu dokter jaga muda. Dia agak kebingungan melihat apa yang terjadi pada luka ibuku dan yang bertindak serta memberi instruksi malah asistennya. Jahitan ibu dibuka 2 bagian atas dan bawah lalu perutnya ditekan agar cairan itu keluar. Diduga itu infeksi tapi itu masih sebatas praduka saja. Lalu dari lubang luka yang menganga itu, dimasukin perban dengan petadin. Sakitnya tentu bukan main, karena tidak ada pembiuasan meski cuman bius lokal saja.

Karena ibu begitu kesakitan, seorang asisten lain berinisiatif memberikan suntikan pengurang rasa sakit, tapi apes…. “Maaf bu, jarumnya buntu.” Dalam hati aku pengen misuh-misuh pada perawat itu! Setelah jarum diganti dan ibu disuntik, rasa sakit tidak berkurang tapi malah bertambah gara-gara suntikan pertama yang gagal itu!

Menurut dokter jaga yang sudah menelpon dokter bedahnya, ia menyarankan untuk setiap hari ke rumah sakit untuk ganti tampon, padahal sekali kunjungan minimal Rp. 200.000 dan semua itu harus dilakukan sampai luka kering.

Jadi begitulah, setiap pagi aku membawa ibu ke rumah sakit, tiap kali proses ganti tampon dilakukan aku selalu disamping ibu supaya bisa memegang tangannya untuk menahan sakit yang luar biasa, serta ngelap keringat akibat nahan sakit, juga memapah dan ngurus ini itu. Melihat proses ganti tampon rasanya seperti sport jantung, tapi sport jantung yang sesungguhnya adalah ketika malam hari menjelang tidur tiba.

Setiap malam sebelum tidur aku menyiapkan semua untuk keperluan esok hari ke rumah sakit, menumpahkan seluruh isi dompet dan menghitung…. kadang kurang seribu, kadang kurang puluhan ribu, kadang cuman cukup untuk hari itu saja dan saat itulah jantungku mencelos seperti dikagetin, “Gusti… dari mana aku dapat uang untuk ibu?” Kamera kesayangan yang selalu aku bawa-bawa sudah aku tawarkan ke beberapa orang, tapi belum laku juga :((

Namun Tuhan itu memang baik dan aku yakin Ia selalu menyertai kami, saat sama sekali tak ada uang, ada teman yang meminjamkan uang, kembali uang pas-pasan ada yang nengok dan ngamplop buat taxi, lagi-lagi harus beli obat atau check up, pembayarannya tidak seperti yang dibayangkan. 

Namun paling berat ketika nanti ketika aku harus pergi, bener-bener bisa nangis ngebayangin ibu sendirian saja dan ku pasrahkan pada beberapa tetangga untuk sekedar berkunjung, ngajak ngobrol supaya tidak merasa sendirian. 

Haduh… Gusti… cobaan ini mungkin belum seberapa karena jauh ada banyak orang yang lebih berat cobaannya dibawahku, tapi sungguh mengalaminya seperti berjalan diseutas benang, dimana dibawahnya menganga jurang.

Mengandalkan Tuhan dan bekerja keras di rantau, aku harap ibu segera sembuh dan kembali seperti sedia kala.

Ah… mungkin seperti inilah rasanya jadi tulang punggung keluarga…

 

Advertisements

About ulillala

keep learning, writing, traveling, cooking and being me
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Oprasi Itu… #1 Sport Jantung

  1. Julie Utami says:

    Dear ananda Lala, salut atas pengabdiannya terhadap ibunda. Percayalah itu semua kehendakNya juga dan akan dibalas dengan kebaikan yang banyak tanpa terduga. Sudah terbukti toch ketika dompet kering ada yang mengulurkan bantuan? Itu juga yang terjadi pada saya dan anak-anak. Sekali lagi bakti kepada ibu yang dilakukan dengan ikhlas diganti oleh Allah dengan kebaikan yang banyak.

    Selamat jalan kembali ke pekerjaan, serahkan semua ke tangan Tuhan tidak mungkin ibu akan dibiarkanNya sendiri, pasti banyak yang bersimpati sekedar menjenguk menanyai keadaan beliau nantinya. Kuatkan diri, jagalah hati jangan sampai ada air mata yang tumpah di hadapan ibu supaya tidak ada yang ikutan nangis sehingga memperlambat kesembuhan ya.

    Peluk cium dari jauh.

    • ulillala says:

      Kejadian ini mengingatkan tentang kisah2 bunda sendiri yang jauh lebih banyak pengalamannya menghadapi meja bedah. Bunda yang sudah berkali2 tentunya jauh lebih-lebih berat cobaannya, itu juga yang kadang menumbuhkan harapan buat aku bun, bagaimanapun berat cobaan, Tuhan tidak akan meninggalkan kita sendiri, Ia sangatlah bermurah hati memberikan setitik jalan keluar.

      Matur nuwun Bun, untuk sharing ceritanya… maklumlah ini operasi pertama dalam keluarga dan ndilalah kok keadaannya pas semua anak2 mesti ngrantau :((

      gandeng tangannya bunda Julie erat2

  2. tinsyam says:

    semoga ibunda segera disembuhkan ya dan lala bisa tenang deh kalu ke palembang..
    kayanya jahitannya infeksi? ato alergi obat bius?
    emang ga ada sodara lain gitu la, biar ibu ada temennya..

    pelukpeluk lala..

    • ulillala says:

      saudara datang cuman mau mamerin mobil baru mbak habis itu pulang tanpa kabar… set dah…

      ada 1 sepupu yang baik hati, cowok, tapi ga enak juga kalo mesti ngrepoti dia tiap hari mana rumahnya juga agak jauh. ya jalan satu2nya nitip ke para tetangga deh…

      ga tahu itu infeksi atau gimana, tapi dokternya kasih alesan itu lapisan lemaknya terlalu tebal jadi berair terus.

      • tinsyam says:

        semoga segera kering luka ibu, dan sodara yang baik masih mau berkunjung menemani ibu..
        yang pamer mobil suruh jual tuh mobil..

      • ulillala says:

        hahahaha gimana mau jual mobil barunya mbak?
        wong itu aja baruuuuuu beliiii jew
        *geleng kepala sambil elus dada*

        mudah2an cepet kering, hari ini aku cek perbannya
        ga ada rembesan, semoga ibu segera bisa digonceng pake motor supaya lebih irit transport

      • tinsyam says:

        jangan makan daging merah dulu kalu masih belum kering.. banyak makan sayur tahu tempe deh.. kurangi garam pun.. biar cepat kering lukanya..

      • ulillala says:

        kalo menurut dokter justru tidak boleh berpantang makan apapun, supaya tambah gizi dan bisa segera sembuh. tapi ibu kan minum juga obat singsei dan disitu ditulis pantangannya adalah ikan dan kacang2an.

        nah jadi menu makan ibu nasi, segala macem sayuran kecuali kacang2an *tahu&tempe juga dipantang* lauknya telur, ayam dikit *ibu lagi eneg sama ayam* juga abon. Sementara menurut tetangga yang dulu punya pengalaman serupa setelah oprasi makan putih telur yang banyak. Akhirnya sekarang aku masaknya ya paduan putih telur sama sayur2an deh.

      • tinsyam says:

        iya itu kacangkacangan.. tapi tempetahu boleh dong.. eh ga boleh ternyata..
        yang penting ada gizinya.. soalnya baca penelitian, orang vegan lebih cepat sembuh operasinya dibanding orang yang suka makan daging.. baca dimana lupa..

      • ulillala says:

        iya mbak, saudara angkatku yang kena kanker usus sebenarnya disarankan agar tidak makan makanan yang ‘bernyawa’ hewani maksudnya, tapi dianya ga kuat..

        akhirnya pake jamu tradisional aja
        rebusan kulit manggis, daun sirsat dan daun piahong

  3. Semoga bunda segera diberi kesembukan dan yang merawat diberi kesabaran

  4. Erit07 says:

    Sabar ya…
    moga ibunya cepat sembuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s